Text
Ceria Hidup Rosidi
"Rosidi seorang tahanan pengganti, Pada Oktober 1965, ia ditangkap saat berkunjung ke rumah Paman Salna, seorang target operasi tentara. Salna lolos. Rosidi diangkut ke truk, menggantika pamannya. Tiga belas tahun, ia jalani beratnya kehidupan tahanan politik di Kamp Panembong, Cianjur. Disela berbagai kerja paksa gali pasir, menebang rasamala di hutan Cilutung, cari batu untuk proyek jalan Pagelaran-Tanggeung, atau membuka hutan untuk kebun sayur. International People's Tribunal memvonis Pemerintah Indonesia bersalah, telah melakukan perbudakan terhadap tahanan politik, 1965-1978. Mereka memaksa tahanan bekerja yang bukan kehendaknya; atau mengorganisir tahanan bekerja tanpa digaji. Rosidi satu saja dari ratusan ribu, mungkin sejuta orang korban kezaliman, yang melandasi munculnya kekuasaan Soeharto. ""Mang Idi (Rosidi) jangan dendam sama saya,"" kata Dadang Mulyadi, komandan Kamp Panembong tak lama sebelum meninggal 1991. Ia berbring sakit di rumahnya. Rosidi datang menengok. ""Ah tidak, Bapak kan hanya jalankan tugas,"" kata Rosidi.
""Saya minta dimaafkan.""
""Sudah Pak."" Rosidi mampu melewati prahara itu karena Oneh. Perempuan sederhana yang bersikukuh mendampingi suami pilihannya sendiri. One memutuskan tinggal di Kamp Panembong, meski ia bukan tahanan politik. Oneh tak pernah jauh dari Rosidi. Sampai di Sarongge Ubruk, Pulau Buru kecil di kaki Gunung Gede. Tempat buangan yang mereka ubah jadi kampung harapan."
Tidak tersedia versi lain