"Seret sang Baron ke tiang siksa!" teriak budakbudak yang memberontak di Fazenda Araruna. "Dia harus menderita, seperti yang dialami oleh Pai José dan sekian banyak budak lainnya yang dicemeti di tiang siksa atas perintahnya." Dengan kasar do Mato dan Justino menyeret sang Baron ke luar, menuju tiang siksa yang baru dipasang, menunggu korbannya. Saat itu menjelang tengah malam, sinar obor d…
Sinha Moça, yang menyamar sebagai Topeng Hitam, memacu kudanya memasuki halaman Rumah Besar. Dia tak menyadari ada sepasang mata mengamat-amati segala gerak-geriknya da ri dalam rumah. Pelan-pelan, laras sebuah pistol diarahkan pada dirinya... kemudian terdengar bunyi letusan. Sinha Moça, putri sang Baron, tertembak dan langsung jatuh ke tanah. Baron Ferreira rupanya terbangun oleh keribut…
Lecutan cemeti berdetar-detar menghajar punggung telanjang Pai José. Kerumunan budak berteriak setiap kali cemeti mendera punggung. Sinhá Moça, yang berusia sepuluh tahun, terpaku menatap kengerian itu. Melihat darah yang mengucur dari punggung budak renta yang pecah-pecah dirobek cemeti itu, matanya berkaca kaca. "Kenapa kau tidak minta ampun? Kenapa kauterima saja segala pukulan itu?…
"Di tempat ini pernah hidup seorang budak pejantan. Ia menghasilkan begitu banyak keturunan untuk tuannya, sehingga semua menyapa dirinya dengan sebutan 'Bapak'. Namanya Pai José." Budak-budak yang ada di situ mendengarkan kata-kata Dimas-yang dirantai di tiang siksa-sambil membisu. "Sebelum ia tewas di tiang siksa karena deraan pengawas, ia mengatakan, 'Anakku begitu banyak, Pengawas…