Kali ini ia ingin menjelajah belahan bumi lainnya. Ya, ia bersemangat menjadi traveler melintasi batas negara. Menemui dunia asing yang benar-benar berbeda. Beda kebudayaan, bahasa, cara hidup dan pandangannya. Meski untuk petualangan kali ini Roy harus meminta pengertian yang sangat dari mama, orang tua yang sangat ia kasihi, dan Suci, gadis manis yang telah merampok hatinya.
"Roy pergi, Ma," kata si bandel mencium kening mamanya. Anak beranak itu berangkulan. Sepi sekali pagi ini. Kini si bandel menyandang ranselnya. Menjadi petualang memang mengasyikkan. Semakin berat tantangannya, malah semakin asyik. Tapi, kadang kala para petualang suka lupa kepada "raja diraja" sesungguhnya. Yang di atas kita: Tuhan. Masih ingat tragedi Gunung Salak? Empat petualang yang tewas…
Roy mengayuh sepeda balapnya pelan-pelan. "Ayo, Joe!" seru Roy. Anjing herder itu menyalak kegirangan. Bulunya yang cokelat kehitaman berkilat. Gerak-geriknya melindungi majikannya dari bahaya. Roy memang selalu jadi pusat perhatian. Ke sekolah dengan sepeda balap dan anjing herder? Itu absurd. Sebuah objek sensasi. Lain waktu telinganya mendengar suara-suara centil, manja, genit, dan menggemas…