"Kau hamil. Arneta?" Rivai duduk dengan hati-hati disisi pembaringan seolah-olah takut menyakiti Arneta "Kau mengandung anak Rivai dan berani meninggalkannya?" "Panggil Rivai kemari." Arneta berusaha menekan rasa takutnya. "Aku harus berbicara dengan dia." "Tapi Rivai menirimku kemari untuk menghukummu."
"Buat apa jadi biarawati, yos? Biarawati sudah banyak. Semua perempuan bisa jadi biarawati. Tapi hanya seorang gadis yang dapat menjadi istriku!" "Tuhan telah memanggilku Anton, Dia datang lebih dulu darimu." "Tapi Tuhan juga bisa keliru, Yosi! Dia pasti keliru memanggilmu jadi biarawati."
Tidak akan dua kali iblis membiarkanmu melanggar sumpahmu sendiri! Dulu kau khianati sumpah setiamu padaku. Kini sumpahmu sendiri kau makan! Tak akan pernah setetes darahnya pun mengalir di tubuh anakmu! Kau tak kan pernah punya anak dari dia!
Lima tahun Prasetya kehilangan ingatannya akibat kecelakaan dalam sebuah kapal pesiar di tengah laut. Ternyata bukan hanya memorinya saja yang hilang. Sifat-sifatnya pun berubah total sehingga dia dicenci oleh orang-orang disekitarnya, termasuk istrinya sendiri.
Karena terlambat menolong pasiennya semasa masih menjadi koasisten dirumah sakit, Mesi dihinggapi perasaan bersalah yang mendalam. Dia berusaha menyilih perasaan bersalahnya itu dengan menumpahkan perhatiannya kepada Ari, kekasih pasiennya itu. Tetapi mula-mula, Ari justru memilih lusi, teman mesi yang cantik jelita, sehingga Mesi merasa tersisih.
"Ngapain sih lu nonggol disini? Cewek lu yang dari Bandung itu udah di roger lagi?" "Wah, nggak bisa di download! Sekuritinya nempel terus kayak cacing usus!" "Jadi lu nggak sempat nembak?" "Boro-boro nembak! Kepala gue nggak dijitak aja sama satpamnya udah bagus!"
"Sejak lahir tak pernah ada wanita dalam hidupku, Melia, bahkan ibuku pun belum pernah kulihat. Ketika aku menemukanmu, aku tidak ingin ada perempuan lain lagi dalam hidupku. Salahkah aku melia? Berdosakah mencintai seorang gadis seperti engkau di mata Tuhanmu?"
"Akan kita kalahkan perempuan itu, Rianti. Enam tahun yang lalu Ibu sudah pernah mengalahkannya! Waktu itu, mereka juga sudah punya anak!" "Tapi saya tidak sampai hati memisahkan mereka, Bu! Anak itu membutuhkan seorang ayah..."
"Ita! Ita!" Hari mengguncang-guncang tubuh adiknya yang telah diam tak bergerak-gerak di tanah dengan panik. Tante Leila yang batu tiba bersama para pembantu, menutup mulutnya dengan ngeri. Tetapi jeritan yang kemudian terdengar bukan jeritan Tante leila. Bukan pula jeritan para pembantu. Jeritan itu berasal dari jendela di atas mereka.
Andrea Puspa tidak tahu siapa anak-abaknya, David atau ricky. Tapi yang jelas, sejak anak itu lahir, tak ada ketengan lagi dalam hidupnya. Evi, Ibu Ricky, terus-menerus membututinya untuk merampas anak itu dan memaksa Andrea merasakan artinya kehilangan.