"Terpujilah cintamu, Faisal Rahman!" geram Dytia menahan marah. "Cintakah namanya hidup bersama seorang gadis selama satu tahun, lalu pergi dengan hanya meminta maaf karena tidak sampai hati meninggalkan ibunya?" "Semua memang salahku", keluh Faisal putus asa. "Ketika aku pergi meninggalkanmu, semua orangpun menyalahkan aku. Katakan padaku, dytia, aku mesti bagaimana?"
"Betul sampai kesana, No? Beno bilang, tungganganmu kayak mesin giling!" "Huu, mesin giling juga siip! Pokoknya sampai ke finish!" "Finish apaan?" ejek Beno. "Buktinya dia lari sipat kuning begitu gergasi itu muncul!" Teman-temannya tertawa geli. Cuma Bram yang diam saja. Pengalaman pertama itu terus menerus menghatui dirinya.
Sesaat sebelum menikah dengan kekasihnya, Rio berangkat ke Bombay. Ditepi laut di balik The Gateway of India, dia dirampok dan dianiaya. Rio bukan hanya kehilangan ingatannya, sekaligus dia pun kehilangan seluruh identitasnya. Dalam keadaan amnesia, ketika namanya sendiri pun tidak diketahuinya, dia jatuh cinta pada Dokter Madhuri. dokter yang merawatnya dan pernah menyelamatkan nyawanya.
Dalam naungan cuaca yang mulai meredup, ketika kegelapan yang samar mulai menyapa, mereka berpelukan makin erat. Seolah meniru matahari yang tenggelam dalam rangkulan laut. Dan tidak melepaskannya lagi kendati malam mulai menjelang. "Seperti matahari dalam pelukan laut" bisik Kezia terharu. "Kita tidak akan saling melepaskan apapun yang akan terjadi."
"Sialan lu, Tur!" maki Rena. "Maria cewek pilihan Tuhan! Dia calon biarawati, tahu nggak? dikutuk Tuhan, jadi monyet lu!" Tapi Guntur tidak percaya Tuhan itu ada. Menurut pendapatnya, Tuhan cuman imajinasi orang-orang yang lemah dan bodoh. Karena itu dia tetap mengejar Maria, ke mana pun dia lari. Sampai suatu saat dia berhasil membawa maria ke rumahnya. "Sekarang kamu tahu tidak ada yang bisa …
"Mataku buta, bukan cuman lecet!" "Kamu kan kecelakaan! Kena musibah!" "Ada orang yang sengaja melempar batu ke kaca mobilku!" "Dia nggak sengaja!" "Tahu darimana?" "Tahu aja!" "Kamu kenal orangnya? Salah satu geng mu?" Dalam tawuran antara sekolahnya dengan sekolah lain, tidak sengaja Aris membutakan mata Pratiwi.
"Banyak lelaki yang menginginkan tubuhku. Dari yang banyak itu, hanya sedikit yang menginginkanku sebagai istri. Dari yang sedikit itu, hanya beberapa yang sungguh-sungguh mencintaiku. Dan dari yang beberapa itu, tidak ada yang menghargai diriku sebagai manusia. Karena itu aku harus menghargai diriku sendiri."
Dia yatim-piatu yang berurbanisasi ke Jakarta. ABG yang tengah mencari jati diri. Di rumah orangtua angkatnya, dia tidak terima oleh ibu dan saudara-saudaranya karena selalu membangkang. Disekolah dia selalu dijaili teman-temannya karena sikap penampilannya yang berlawan arah. Akibatnya hampir tiap hari dia berkelahi.
Delapan tahun yang lalu karena takut kehilangan kereta, Arin telah menumpang kereta yang salah. Kereta api yang menjerumuskannya ke jurang penderitaan. Tetapi penderitaan yang bagaimanapun beratnya tidak menjerumuskan perempuan sederhana yang polos dan bodoh seperti Arini ke lembah kenistaan. Dia tidak membiarkan dirinya jatuh ke dalam pelukan laki-laki. Atau terkapar menangisi nasibnya di tema…
Mereka saling mencintai bahkan ketika kata cinta itu sendiri belum hadir dalam kamus mereka. Cinta mereka begitu dalam dan indah. Cinta yang mengikat mereka dalam sebuah perkawinan yang tak bernoda. Tetapi Alzheimer datang terlalu pagi. "Penyakit ini menyebabkan kemunduran intelektual yang progresif. Dapat diobati tapi tak dapat disembuhkan. Secara bertahap akan merusak memori kemampuan bicara …