Cerita dimulai ketika sang Pemuda, yang merasa bahwa dunia ini penuh dengan ketidakadilan dan bahwa ia tidak bisa bahagia karena trauma masa lalu dan perlakuan orang lain, mendatangi rumah Sang Filsuf. Sang Filsuf kemudian dengan tenang membantah keyakinan Pemuda tersebut menggunakan prinsip-prinsip Adlerian.