Walsch sedang mengalami titik kritis dalam hidupnya saat ia me mutuskan menulis sepucuk surat kepada Tuhan, guna menumpahkan perasaan frustasi. Ia tidak mengharapkan tanggapan. Setelah menye lesaikan surat, ia terus menulis dan keluarlah jawaban yang luar biasa atas pertanyaan-pertanyaannya.