Identitas kita banyak: nama, gender, profesi, dan lainnya. Itu jati diri yang kita akui. Tiap hari kita menyatakan akunya diri kita. Kita mengakukan dan mengakui identitas kita.
Mengaku percaya kepada Kristus tidak bisa terjadi seorang diri, tetapi di dalam konunitas orang percaya, yaitu gereja. Menjadi Kristen selalu berarti menghisabkan diri sebagai anggota suatu gereja, meskipun gereja apa pun tidak luput dari kesalahan dan bisa saja mengecewakan kita.
Kita berbeda: beda jenis kelamin, beda talenta, beda budaya, beda gereja, beda agama, dan beda rupa-rupa. Karunia memang berbeda beda sehingga hidup ini menjadi majemuk. Buku Seri Selamat ke 19 ini memperkenalkan konsep alkitabiah tentang kharismata dan pluralisme, dengan gaya khas yang membuat kita tersenyum dan tertawa, tetapi juga terharu dan termenung.
Kita bekerja dari pagi sampai senja sebagai karyawan, ibu rumah tangga, atau apa pun. Dunia kerja keras dan kejam: eksploitasi dan frustrasi, duri dan dengki, ambisi dan arogansi. Akan tetapi, dunia kerja pun bisa indah: visi dan aktualisasi diri, dedikasi dan intimasi, segelas kopi dan sepiring nasi.
Menjadi orang yang berguna dan berbuah adalah tujuan hidup tiap orang. Oleh sebab itu, Kristus mengibaratkan kita sebagai pohon buah lalu menu gaskan kita untuk berbuah.
Ibarat perjalanan, iman bukanlah tiba di tujuan, melainkan berada di tengah jalan. Iman masih perlu kita gumuli. Tidak ada iman yang sudah jadi karena iman selalu masih berada dalam proses menjadi.
Di tengah-tengah hutan Brong Ahafo di Ghana ada sebuah kota kecil tetapi ramai. Mata pencaharian penduduknya adalah industri kayu. Tiap hari Minggu berkumpul kelompok kecil orang Presbiterian di salah satu ruangan sekolah dasar. Orang Methodis mendirikan gerejanya di ujung jalan. Gereja Pentakosta baru memulai pertemuannya di sebuah warung yang tua. Golong an Katolik mendirikan sebuah bangunan …
Bercinta sering diartikan sebagai hubungan seks, padahal cinta adalah menaruh kasih sayang. Cinta tidak identik dengan hubungan seks sebab dalam hubungan cinta yang menyatu bukan hanya dua tubuh, melainkan juga dua hati, dua pikiran, dua pribadi, yaitu dua manusia seutuhnya.
Ibadah adalah bakti yang kita lakukan untuk Allah. Akan tetapi menurut Kristus ibadah adalah juga "segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina”.
Sepanjang jalan kita berjuang. Berjuang untuk sesuap nasí, untuk me ngembangkan diri, untuk menjalani terapi, untuk sehat serasi, untuk hak asasi, untuk mengikut Kristus Sang Rabi sekaligus Sang Abdi, untuk tetap utuh sebagai suami-istri dan juga sebagai warga republik ini.