Menjadi orang yang berguna dan berbuah adalah tujuan hidup tiap orang. Oleh sebab itu, Kristus mengibaratkan kita sebagai pohon buah lalu menu gaskan kita untuk berbuah.
Ibarat perjalanan, iman bukanlah tiba di tujuan, melainkan berada di tengah jalan. Iman masih perlu kita gumuli. Tidak ada iman yang sudah jadi karena iman selalu masih berada dalam proses menjadi.
Bercinta sering diartikan sebagai hubungan seks, padahal cinta adalah menaruh kasih sayang. Cinta tidak identik dengan hubungan seks sebab dalam hubungan cinta yang menyatu bukan hanya dua tubuh, melainkan juga dua hati, dua pikiran, dua pribadi, yaitu dua manusia seutuhnya.
Ibadah adalah bakti yang kita lakukan untuk Allah. Akan tetapi menurut Kristus ibadah adalah juga "segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina”.
Sepanjang jalan kita berjuang. Berjuang untuk sesuap nasí, untuk me ngembangkan diri, untuk menjalani terapi, untuk sehat serasi, untuk hak asasi, untuk mengikut Kristus Sang Rabi sekaligus Sang Abdi, untuk tetap utuh sebagai suami-istri dan juga sebagai warga republik ini.
Doa adalah memejamkan mata, tetapi buku ini menggugah: doa adalah juga membuka mata terhadap kenyataan hidup. Kita berdoa dalam nama Yesus Kristus, lalu buku ini menantang: tahukah Anda apa konsekuensinya? Kita menyanyikan lagu yang berupa doa, dan buku ini menerangkan kisah lagu-lagu itu.
Spiritualitas adalah kehalusan perasaan tentang Allah yang ber buah kualitas hidup sebagaimana tampak dalam diri Kristus. Kualitas itu terwujud dalam hubungan yang agung dengan Khalik, hubungan yang luhur dengan sesama dan hubungan yang mulia dengan diri sendiri. Ke arah itulah kita semua ingin berkembang. Buku ini menolong kita untuk mengerti bagaimana menjalani perkembangan itu.
Sikap cermat dan tepat itulah yang agaknya dimaksud ketika Kristus menyuruh pengikut-Nya bersaksi, "Aku mengutus kalian seperti domba yang tidak berdaya ke tengah-tengah serigala ganas. Kalian harus waspada seperti ular dan tulus hati seperti burung merpati" (Mat. 10:16, BIMK).
Perbedaan bukan untuk dibesar-besarkan dan bukan pula untuk ditutup-tutupi, melainkan untuk dipahami dan dipadukan. Buku Seri Selamat ke-25 ini membantu kita belajar hidup sepadu sepadan mes kipun berbeda karakter, gender, orientasi seksual, etnik, denominasi gereja, dan agama.
Orang bilang kita tidak jadi letih kalau melayani. Akan tetapi, di buku ini justru tertulis, "Melayani itu meletihkan ... terutama meletihkan mental dan jiwa." Buku ini memang tidak bermuluk muluk, melainkan mengajak kita jujur mengakui suka duka pela yanan. Dengan banyak ilustrasi ringan, buku ini menolong kita memahami berbagai fondasi dan motivasi yang merupakan inti penerapan iman yaitu, "K…