"Apa sudah ada Seri Selamat yang baru?" Itulah pertanyaan yang diteruskan oleh banyak toko buku dan kolportase gereja. Para penggemar Seri Selamat sudah menunggu buku berikutnya. Belum lagi buku ini dicetak, delapan ribu eksemplar sudah dipesan oleh pelbagai gereja dan badan Kristen. Renungan buah pena Andar telah menjadi berkat dan menyentuh hati banyak
Iman kristiani timbul sebagai buah perenungan sejumlah orang yang tiap hari selama tiga tahun berjalan bersama Yesus dari desa ke desa, mengalami sendiri gaya hidup-Nya, melihat perbuatan Nya dan menyimak ajaran-Nya. Ternyata gaya hidup, perbuatan dan ajaran-Nya itu penuh kedalaman yang terselubung.
Dalam menghadapi masalah persaingan antar saudara, perceraian orangtua, bentuk tubuh, penyesuaian diri di sekolah atau berbagai hal mengenai harga diri, setiap remaja perlu mengetahui bahwa Allah mengasihi mereka. Katakan pada mereka bahwa...
Hidup adalah mewaris: mewarisi dan mewariskan. Kita mewarisi banyak hal dari generasi masa lampau dan mewariskan banyak pula kepada generasi mendatang. Karena itu, hidup diukur dengan tantangan: Apa yang telah kita warisi dan apa yang akan kita wariskan?
Indonesia sudah terbentuk, namun masih perlu dibentuk. Indonesia sudah jadi, nam masih dalam proses menjadi. Oleh sebab itu, kita terus mengindonesia. Proses panjang penjadian keindonesiaan adalah tugas kita semua, sebab kita semua adalah pemilik Indonesia. Itulah makna kebinekaan. Kita berbeda tetapi kita setara. Tidak ada mayoritas atau minoritas. Tidak ada asli atau bukan asli.
Hidup hanya sekali, tidak bisa diulang atau diperpanjang. Hidup yang sekali ini sungguh berarti. Melalui 33 renungan yang disajikan dalam gaya narasi yang khas dan lugas, buku ini meng ajak pembaca untuk menikmati, mensyukuri dan menyelami keda laman makna hidup. Berbagai aspek hidup seperti cinta, harta, kematian, persahabatan, dan pokok-pokok lainnya disoroti dari su dut pandang kristiani seh…
Dua puluh tiga dari 33 bab buku ini telah diubah dan ditambah dalam edisi revisi ini. Satu bab diganti seluruhnya sebagai apologia atau pembelaan iman dalam kontrovesi ketidakbangkitan
Jika kupu-kupu kita kejar, ia justru menjauh. Namun, jika kita membiarkan diri didekati, ia hinggap. Begitu juga dengan keba hagiaan. Kebahagiaan akan hinggap jika kita membuka diri kita didekati orang lain. Itu pun paradoks keluarga. Jika kita ingin me nguasai seseorang, ia merenggang. Akibatnya timbul ribut dan cekcok, padahal sebetulnya kita sudah cocok dan ingin rukun. Itulah dinamika kelua…